Padabulan April 1628, Sultan Agung mengerahkan pasukannya untuk menyerang kastil VOC, di Batavia. Pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Baurekso membuat markas di Muara Sungai Marunda. Pada tanggal 21 september mereka mengadakan serangan ke benteng, tetapi dapat digagalkan oleh Belanda. Pertempuran hebat terjadi pada tanggal 21 Oktober
MarkasVOC pernah bertempat di Banten, Ambon, hingga Batavia. Sultan Agung yang belum menyerah dengan gagalnya serangan pertama, ia kembali memerintahkan serangan terhadap VOC di Batavia. Serangan kedua yang dilakukan pada tahun 1629 ini dipimpin oleh Dipati Puger dan Dipati Purbaya.
PadaTahun 1629 Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya di bawah pimpinan Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Serangan kedua juga mengalami kegagalan, sebab persiapan Sultan Agung telah diketahui oleh VOC, gudang-gudang persiapan makanan Sultan Agung dibakar oleh VOC.
Olehkarena itu sejak semula Belanda ingin menguasai Banten, tetapi tidak pernah berhasil. Akhirnya VOC membangun Bandar di Batavia pada tahun 1619. Terjadi persaingan antara Banten dan Batavia memperebutkan posisi sebagai bandar perdagangan internasional. Oleh karena itu, rakyat Banten sering melakukan serangan- serangan terhadap VOC.
Kronologiawalnya, kala itu Aceh menjadi tujuan perdagangan ketika Portugis menguasai Malaka pada 1511 di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque. Portugis merupakan salah satu bangsa Eropa, selain Spanyol, pertama yang melakukan penjelajahan samudera dengan misi 3G, yakni Gold (kekayaan), Glory (kejayaan), dan Gospel (penyebaran agama).
Inilahsalah satu alasan Sultan Agung menyerang Batavia, karena dianggap sebagai penghalang untuk menguasai Banten. Selain itu, Sultan Agung menganggap kedudukan VOC di Batavia sebagai ancaman karena kerap menghalangi kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka.
FetB6. Ilustrasi Alasan mengapa Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia. - Mengapa Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia pada tahun 1620-an? Sultan Agung atau Raden Mas Rangsan merupakan raja Kesultanan Mataram yang memerintah antara tahun 1613-1645. Di masa pemerintahannya, Kesultanan Mataram mencapai puncak keemasannya. Selama Sultan Agung berkuasa, Mataram telah berkembang menjadi salah satu kerajaan terbesar dan paling dihormati di Nusantara. Raja Mataram ini juga dikenal sebagai salah satu pemimpin lokal yang berani melancarkan perlawanan terhadap Belanda di Nusantara. Tidak hanya sekali, Mataram melakukan serangan terhadap Belanda di Batavia sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1628 dan 1629. Meskipun pasukan Mataram akhirnya terpaksa mundur dalam dua kali serangan tersebut, namun itu merupakan salah satu sejarah penting sejarah Indonesia. Lantas, mengapa Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia? Inilah alasannya. Sultan Agung menganggap kedudukan VOC di Batavia sebagai ancaman karena kerap menghalangi kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka. Keberadaan VOC pun dianggap sebagai penghalang bagi Mataram untuk menguasai Banten. Saat itu, Mataram hampir menguasai seluruh tanah Jawa, dan salah satu wilayah di Jawa yang belum dikuasai adalah Banten serta Batavia Jakarta, yang menjadi markas VOC. Itulah salah satu alasan Sultan Agung menyerang Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Namun, ketegangan antara Mataram dan VOC sendiri telah berlangsung sejak Sultan Agung naik takhta. Pada 1614, VOC mengirim utusan untuk mengucapkan selamat atas penobatan Sultan Agung sebagai Raja Mataram. Kala itu, VOC juga memerlukan beras dari Jawa dan sangat mengharapkan perdagangan dengan daerah-daerah pantai pengekspor beras yang ada di wilayah Mataram. Namun, Sultan Agung menyatakan bahwa Mataram tidak mungkin bersahabat apabila VOC ingin menguasai tanah Jawa, karena raja terbesar Mataram ini hendak mempersatukan Pulau Jawa di bawah kepemimpinannya. Penolakan itu pun membuat hubungan antara Mataram dan VOC merenggang. Konflik pertama antara Mataram dan VOC terjadi pada tahun 1618 di Jepara. Hubungan kedua pihak ini menjadi sangat buruk setelah Sultan Agung melarang menjual beras kepada VOC. Kabarnya, orang-orang Belanda menjadi sangat benci dengan Sultan Agung dan mengotori masjid Jepara. Setelah itu, terdapat tuduhan bahwa VOC merampok kapal-kapal orang Jawa. Sementara itu, pada tahun 1619, VOC berhasil merebut Jayakarta dari Kesultanan Banten yang kemudian mengganti namanya menjadi Batavia. Saat itu, markas VOC pun lantas dipindahkan ke Batavia. Menyadari bahwa Batavia dipenuhi oleh VOC, Sultan Agung mulai berpikir untuk memanfaatkan VOC dalam persaingannya menghadapi Surabaya dan Kesultanan Banten. Setelah Surabaya berhasil ditaklukkan oleh Mataram, mereka menyerang Banten. Akan tetapi, untuk dapat menyerang Banten, Mataram harus mengatasi Batavia terlebih dahulu. Bulan April 1628, Kyai Rangga, Bupati Tegal, dikirim sebagai duta ke Batavia untuk menyampaikan tawaran damai kepada VOC. Namun, tawaran tersebut ditolak, sehingga Sultan Agung memilih untuk mengibarkan bendera perang. Serangan pertama yang terjadi pada tahun 1628 dipimpin oleh Tumenggung Baureksa, bupati Kendal. Strategi serangan pertama pasukan Mataram ke Batavia itu adalah dengan membendung Sungai Ciliwung agar benteng VOC kekurangan air. Meski strategi ini berhasil membuat pihak VOC terjangkit wabah kolera, tetapi dominasi Belanda belum bisa dipatahkan. Pada akhirnya, pasukan Mataram memilih mundur dan kembali ke kerajaannya. Belum sampai bisa mematahkan pertahanan Belanda, pasukan mataram mengalami hambatan. Di antaranya stamina pasukan terkuras, kekurangan bahan makanan, dan juga kalah persenjataan. Itulah yang menyebabkan mundurnya perlawanan Mataram terhadap Belanda pada serangannya yang pertama. Selanjutnya, Mataram kembali melancarkan serangan ke Batavia setahun kemudian. Sultan Agung kembali mengirim pasukan untuk menyerang VOC dengan strategi baru setelah belajar dari kekalahan sebelumnya. Strategi yang diterapkan di antaranya, memperkuat armada militer, meningkatkan jumlah persenjataan, dan membangun lumbung makanan di Tegal dan Cirebon. Serangan Mataram pada tahun 1629 ini dipimpin oleh Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Mereka berhasil membawa pasukan Mataram sampai di Batavia, namun serangan ini kembali menemui kegagalan. Meski sudah mengantisipasi hambatan serangan sebelumnya, rupanya Belanda masih saja menemukan cara untuk memukul mundur pasukan Mataram. Belanda membakar lumbung padi milik pasukan Mataram oleh Belanda. Dengan dibakarnya lumbung padi oleh Belabda, pasukan Mataram kekurangan bahan makanan dan kelelahan, sehingga memilih untuk mundur. Itulah alasan mengapa Sultan Agung Merencanakan serangan ke Batavia dan bagaimana pasukan Mataram terpaksa mundur setelah melakukan serangan. Setelah kegagalan Mataram, VOC akhirnya berhasil memperluas pengaruhnya dengan mengakuisisi dataran tinggi Priangan serta pelabuhan pantai utara Mataram, seperti Tegal, Kendal, dan Semarang. *
Mas Pur Follow Seorang freelance yang suka membagikan informasi, bukan hanya untuk mayoritas tapi juga untuk minoritas. Hwhw! Home » Kerajaan » Sejarah » Perlawanan Banten Terhadap VOC Januari 10, 2021 2 min readSebagai bandar perdagangan internasional posisi Banten sangat strategis. Oleh karena itu, VOC ingin menguasasi Banten, tetapi tidak pernah berhasil. Pada tahun 1619 VOC membangun bendar perdgangan di Batavia sehingga terjadi persaingan antara Bante dan VOC dalam merebutkan posisi sebagai bandar perdagangan internasional. Hal tersbeut mendorong rakyat Banten sering melakukan serangan terhadap tahun 1651 Pangeran Surya naik takhta di Kesultanan Banten. Pangeran Surya adalah cucu Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Karim, anak dari Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad yang meninggal pada tahun Surya bergelar Sultan Abu al-Fath Abdulfatah dan lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa berusaha memulihkan posisi Banten sebagai bandar perdagangan internasional dan sekaligus menandingi perkembangan bandar perdagangan VOC di hal yang dilakukan Sultan Ageng seperti dengan mengundang para pedagang Inggris, Prancis, Denmark, dan Portugis. Selain itu, Sultan Ageng juga mengembangkan hubungan dagang negara Asia, seperti Persia, Benggala, Siam, Tonkin, dan melemahkan peran Banten sebagai bandar perdagangan, VOC sering melakukan blokade. Jung-jung Kapal Cina dan kapal-kapal dagang dari Maluku dilarang meneruskan perjalanan ke Banten. Menanggapi hal tersebut, Sultan Ageng mengirim beberapa pasukan untuk menganggu kapal-japal dagang VOC dna mebuat gangguan di Batavia. Selain itu, rakyat Banten juga melakukan pengerusakan terhadap kebun tanaman tebu milik menghadapi serangan Banten, VOC memperkuat kota Batavia dengan mendirikan benteNg-benteng pertahanan seperti benteng Noorwijk. Dengan benteng-benteng tersebut diharapkan VOC mampu bertahan dari serangan dari luar dan mengusir Sejarah Kerajaan Banten Sultan, Kejayaan, Tahun, dan VOCSementara itu, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan membangun saluran irigasi untuk kepentingan pertahanan. Saluran irigasi tersebut selain untuk meningkatkan produksi pertanian juga untuk memudahkan transportasi dalam perang. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng banyak dibangun saluran air atau irigasi. Oleh karena itu, Sultan Ageng mendapat gelar Sultan Ageng Tirtayasa tinta berarti air.Pada tahun 1671 Sultan Ageng mengangkat putra mahkota Abdulnazar Abdulkahar sebagai raja pembantu. Putra mahkota tersebut lebih dikenal sebagai Sultan Haji. Sebagai raja pembantu, Sultan Haji bertanggung jawab dalam urusan dalam negeri, sedangkan Sultan Ageng bertanggung jawab atas urusan luar negeri dengan dibantu oleh putra yang lain yang bernama Pangeran Arya pemisahan urusan tersebut diketahui oleh perwakilan VOC di Banten W. Caeff. Selanjutnya, W. Caeff mendekati dan menghasut Sultan Haji agar urusan pemerintahan di Banten tidak dipisah-pisah dan jangan sampai kekuasaan jatuh kepada Pangeran Arya adanya hasutan tersebut, Sultan Haji mencurigai ayah dan saudaranya. Sultan Haji kemudian bersekongkol dengan VOC untuk merebut takhta Kesultanan Banten. Dalam persekongkolan tersebut VOC bersedia membantu Sultan Haji, tetapi dengan beberapa syarat-syarat yang diberikan VOC kepada Sultan Haji. Banten harus menyerahkan Cirebon kepada VOC. Monopoli lada di Banten dipegang oleh vOC dan harus menyingkirkan para pedagang Persia, India, dan Cina. Banten harus membayar ringgit apabila ingkar janji. Pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan pedalaman Priangan segera ditarik Haji menyetujui perjanjian tersebut, dan pada tahun 1681 VOC berhasil merebut Kesultanan Banten. Istana Surosowan berhasil dikuasai VOC dan Sultan Haji kemudian menjadi Sultan Banten yang berkedudukan di Istana Surosowan. Sultan Ageng kemudian membangun istana baru yang berpusat di Ageng berusaha merebut kembali Kesultanan Banten dan pada tahun 1682 pasukan Sultan Ageng berhasil mengepung Istana Surosowan. Dalam perebutan tersebut Sultan Haji terdesak dan minta bantuan kepada VOC. Sultan Ageng terdesak dan meloloskan diri bersama Pangeran Arya Purbaya ke hutan Lebak. Sultan Ageng dan putranya terus melakukan serangan dengan setelah melalui tipu muslihat, pada tahun 1683 Sultan Ageng berhasil ditangkap dan ditawan di Batavia sehingga meniggal pada tahun 1692. Perlu diketahui bahwa semangat juang Sultan Ageng dan pengikutnya tidak pernah padam. Sultan Ageng mengajarkan untuk selalu menjaga kedaulatan negara dan selalu mempertahankan tanah air dari dominasi juga Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOCNah, itulah dia artikel tentang perlawanan Banten terhadap VOC beserta akhir perlawanan. Demikian artikel yang dapat kami bagikan tentang salah satu sejarah perlawanan di Indonesia pada masa kolonialisme. Sekian dan semoga dapat membantu tugas Anda.
- Banten merupakan wilayah pertama yang didatangi Belanda pada tahun 1596 di bawah kepemimpinan Cornelis de Houtman. Akan tetapi, kedatangan Belanda saat itu langsung diusir oleh rakyat Banten karena dianggap sombong dan kasar. Rasa ketidaksukaan rakyat Banten terhadap Belanda terus berlanjut sampai tahun 1656 di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. O iya, Banten termasuk kesultanan yang sangat maju pada masa kolonial sehingga banyak pedagang yang singgah ke sana, termasuk Belanda. Banten di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa di tahun 1650-an terus mengalami perkembangan yang pesat. Kondisi inilah yang membuat VOC sangat tertarik untuk memonopoli perdagangan di kawasan pesisir Jawa, termasuk di wilayah Banten. Meski begitu, usaha VOC tidaklah mudah, karena muncul perlawanan dari rakyat Banten di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. Berikut latar belakang dan bentuk perlawanan Banten terhadap VOC. "Rakyat Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa melakukan perlawanan terhadap kongsi dagang Belanda atau dikenal dengan nama VOC." Latar Belakang Perlawanan Banten Latar belakang dari perlawanan yang dilakukan rakyat Banten terhadap VOC karena dua hal, yaitu 1. Adanya gangguan dan blokade yang dilakukan VOC kepada kapal dagang dari Maluku dan Tiongkok yang datang ke Banteng. Baca Juga 4 Alasan Sultan Agung Menyerang VOC di Batavia
Home Nusantara Selasa, 30 Mei 2023 - 1901 WIBloading... A A A Perlawanan Mataram Islam terhadap VOC di Batavia dilakukan pada tahun 1628 dan 1629. Perlawanan tersebut disebabkan karena Sultan Agung menyadari bahwa kehadiran VOC di Batavia dapat membahayakan hegemoni kekuasaan Mataram Islam di Pulau Jawa. Sayangnya serangan yang dilakukan Mataram Islam harus mengalami kegagalan karena VOC berhasil membakar lumbung persediaan makanan pasukan banyak hal yang menjadikan Sultan Agung memiliki peran sangat sentral dalam kemajuan kerajaan ini. Salah satu hal yang dilakukan oleh Sultan Agung adalah meneruskan pendahulunya untuk meletakan dasar perkembangan Mataram Islam dengan memberikan pengajaran dan pendidikan kepada rakyat, beliau juga menempatkan ulama dengan kedudukan terhormat, yaitu sebagai pejabat anggota Dewan Parampara Penasihat tinggi kerajaan. Selain itu Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan Islam. Misalnya grebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang saat ini dikenal sebagai garebeg Puasa dan Grebeg Maulud. bim sejarah kerajaan mataram mataram kuno islam voc Baca Berita Terkait Lainnya Berita Terkini More 1 menit yang lalu 35 menit yang lalu 44 menit yang lalu 46 menit yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu
- Sultan Agung merupakan raja terbesar dari Kerajaan Mataram Islam yang mulai berkuasa tahun 1613. Kerajaan Mataram Islam di bawah kekuasaannya berhasil mencapai puncak kejayaan. Bahkan, Kerajaan Mataram Islam tumbuh menjadi kerajaan besar dan paling dihormati di Nusantara, Adjarian. O iya, Sultan Agung juga dikenal sebagai raja yang sangat membenci VOC. Sultan Agung pernah melakukan penyerangan terhadap VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Walaupun begitu, dua serangan yang dilancarkan Sultan Agung dan pasukannya mengalami kegagalan. Penyerangan yang dilakukan oleh Sultan Agung ini bukan tanpa alasan. Ada beberapa alasan Sultan Agung menyerang VOC di Batavia. "Meskipun serangan yang dilakukan mengalami kegagalan, Sultan Agung tetap tidak berhenti untuk mengusir VOC yang berusaha menguasai Jawa." Alasan Sultan Agung Menyerang VOC di Batavia Berikut ini beberapa alasan Sultan Agung menyerang Batavia yang pada saat itu menjadi markas VOC 1. Serangan VOC ke Jepara Pasukan Kerajaan Mataram pada 18 Agustus 1618 menyerbu kantor VOC di Jepara. Baca Juga 5 Kebijakan VOC di Bidang Ekonomi saat Menjajah Indonesia
serangan sultan agung terhadap voc di banten dan batavia